Standar Kemampuan Jasmani dan Rohani Pada Pemilihan Tahun 2020

Berita Terkini Tanggal Kirim: 06 September 2020 | Penulis:

A. Pendahuluan
Pedoman Teknis Standar Kemampuan Jasmani dan Rohani serta Standar Pemeriksaan Kesehatan Jasmani, Rohani, dan Bebas Penyalahgunaan Narkotika disusun oleh KPU berkoordinasi dengan PB IDI, PP HIMPSI dan BNN. Dalam pelaksanaan pemeriksaan kesehatan untuk Pemilihan, KPU Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota membentuk kelompok kerja pemeriksaan kesehatan yang anggotanya termasuk perwakilan dari IDI, HIMPSI dan BNN di wilayah masing-masing.

Perwakilan dari IDI, HIMPSI dan BNN tersebut bertugas membantu KPU Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota dalam proses pemeriksaan kesehatan dan memberikan rekomendasi rumah sakit yang ditunjuk untuk melakukan pemeriksaan kesehatan bakal calon Gubernur, Wakil Gubernur, Bupati, Wakil Bupati, Walikota dan Wakil Walikota.

B. Kesehatan Medik-Fisik-Psikiatri
Calon Gubernur, Wakil Gubernur, Bupati, Wakil Bupati, Walikota, atau Wakil Walikota disebut mampu secara rohani dan jasmani untuk melaksanakan tugas dan kewajiban dalam arti kesehatan tidak berarti harus bebas dari penyakit, impairment ataupun kecacatan, melainkan setidaknya mereka harus dapat melakukan kegiatan fisik sehari-hari secara mandiri tanpa hambatan yang bermakna dan tidak memiliki penyakit yang diperkirakan akan mengakibatkan kehilangan kemampuan fisik dalam 5 (lima) tahun ke depan, serta memiliki kesehatan jiwa sedemikian rupa sehingga tidak kehilangan kemampuan dalam melakukan observasi, menganalisis, membuat keputusan dan mengkomunikasikannya.

Dengan demikian, mampu secara rohani dan jasmani untuk melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai Gubernur, Wakil Gubernur, Bupati, Wakil Bupati, Walikota, atau Wakil Walikota dalam arti kesehatan adalah keadaan kesehatan (status kesehatan) jiwa dan jasmani yang bebas dari ketidakmampuan yang tidak dapat dikoreksi.

Ketidakmampuan yang tidak dapat dikoreksi mempunyai pengertian suatu keadaan kesehatan yang dapat menghambat atau meniadakan kemampuan dalam menjalankan tugas dan kewajiban sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, atau Walikota dan Wakil Walikota. Ketidakmampuan yang tidak dapat dikoreksi sebagaimana dimaksud adalah sebagai berikut:
1. Ketidakmampuan dalam kesehatan jiwa dan adiksi NAPZA (sesuai PPDGJ III), yaitu:
a. Ketidakmampuan dalam kesehatan jiwa:
       1) mengidap psikosis (gangguan skizofrenia, gangguan mood dengan gambaran psikotik, gangguan waham menetap, gangguan psikotik akut);
       2) mengidap Gangguan Mood Berat, Depresi Berat dan Bipolar tipe I;
       3) mengidap gangguan anxietas berat (Gangguan Panik, Gangguan Fobia, Gangguan Stresss Pasca Trauma, Gangguan Cemas Menyeluruh);
       4) mengidap retardasi mental maupun gangguan intelektual berat lain; dan
       5) mengidap gangguan kepribadian.

b. Ketidakmampuan akibat adiksi NAPZA. 
Mengalami salah satu Gangguan Mental Perilaku akibat Zat Psikoaktif di bawah ini:
    1) Intosikasi akut;
    2) Pengguaan merugikan (harmful);
    3) Sindroma ketergantungan;
    4) Putus zat (termasuk dengan delirium);
    5) Gangguan Psikotik akut (termasuk residual dan onset lambat); dan
    6) Sindrom Amnesik.

2. Ketidakmampuan yang tidak dapat dikoreksi dalam kesehatan jasmani:
a. Sistem saraf:
    1) ketidakmampuan yang tidak dapat dikoreksi motorik dengan scala Rankin Dimodifikasi dengan nilai >3 (lebih dari tiga), misalnya pada Distrofia Muskulorum Progresiva, Myastenia Gravis berat;
    2) ketidakmampuan yang tidak dapat dikoreksi keseimbangan dan koordinasi sedang - berat;
    3) gangguan single domain kognitif berat yang tidak dapat dikoreksi, meliputi gangguan salah satu dari fungsi:
        a) atensi;
        b) bahasa;
        c) memori;
        d) visuospasial;
        e) fungsi eksekutif.
    4) gangguan multi domain kognitif berat yang tidak dapat dikoreksi.

b. Sistem jantung dan pembuluh darah:
    1) gangguan jantung/pembuluh darah dengan risiko mortalitas dan morbiditas jangka pendek yang tinggi dan tidak dapat dikoreksi;
    2) gangguan kardiovaskular simtomatik yang sukar diatasi dengan farmako-terapi atau intervensi bedah atau nonbedah; dan
    3) ketidakmampuan yang tidak dapat dikoreksi akibat toleransi/kemampuan fisik yang rendah.

c. Sistem pernapasan:
    1) gangguan pernapasan dengan derajat obstruksi berat dan restriksi berat;
    2) menderita kanker paru, termasuk metastasis; dan
    3) ketidakmampuan yang tidak dapat dikoreksi akibat toleransi/kemampuan fungsi paru yang rendah.

d. Bidang penglihatan:
    1) tajam penglihatan jauh dengan koreksi masih lebih buruk dari 6/18 dan/atau tajam penglihatan dekat dengan koreksi masih lebih buruk dari Jaeger 2 pada mata terbaik;
    2) lapang pandangan kurang dari 20 (dua puluh) derajat;
    3) Diplopia yang tidak dapat dikoreksi; dan
    4) kelainan organik sebagai akibat penyakit lain yang dideritanya sehingga mengakibatkan keterbatasan dalam melakukan pekerjaan.

e. Bidang telinga hidung tenggorok-kepala leher:
    1) Tuli yang tidak dapat dikoreksi dengan alat bantu dengar setelah dilakukan pemeriksaan audiometri nada murni.
    2 ) Disfonia ("gangguan suara") berat yang menetap, sehingga menyulitkan untuk komunikasi verbal.

f. Sistem hati dan pencernaan: gangguan fungsi hati berat (dekompensasi hati).

g. Sistem urogenital (ginjal dan saluran kemih): gangguan fungsi ginjal berat yang memerlukan dialisis termasuk CAPD dan hemodialysis.

h. Sistem muskuloskeletal (alat gerak): gangguan fungsi muskuloskeletal yang tidak dapat dikoreksi melalui skoring ADL (activity daily living) secara mandiri.

i. Keganasan (kanker): kanker yang tidak dapat disembuhkan dan mengganggu kinerja.

j. Ketidakmampuan yang tidak dapat dikoreksi di bidang gigi dan mulut:
    1) tumor ganas rongga mulut;
    2) gangguan sendi rahang berat yang mengganggu fungsi;
    3) kista besar di rongga mulut yang mengganggu fungsi bicara dan menelan;
    4) kelainan kongenital dari mulut, gusi dan langit-langit yang setelah koreksi masih mengganggu fungsi suara dan bicara;
    5) gangguan phonetik berat;
    6) abses berat yang mengarah ke sepsis.

C. Aspek Kesehatan Psikologi
Aspek yang menjadi standar mampu dari sisi psikologi atau memenuhi kesehatan rohani atau psikologi adalah sebagai berikut:

1. memiliki intelegensi yang baik mencakup kecerdasan kognitif, yaitu
kemampuan untuk berpikir dan merespon adaptif terhadap lingkungan. Potensi kecerdasan yang merupakan perpaduan seluruh aspek pembentukan intelektual; kemampuan untuk berpikir dan menyelesaikan masalah secara rasional dan sesuai tujuan.

2. mampu mengendalikan diri dan emosinya sehingga dapat mengatasi tekanan, mencakup:
    a. Kecerdasan Emosi: Kemampuan mengelola nuansa emosi pribadi secara positif dengan cara-cara yang sesuai dengan tuntutan lingkungan sehingga menunjang kemampuan adaptasi pada berbagai situasi;
    b. Stabilitas Emosi: Kemampuan mengendalikan perasaan dan
dorongan dalam diri dalam menghadapi situasi; bereaksi tenang
dalam menghadapi masalah untuk mengatasi hambatan pekerjaan/tujuan;
    c. Pengendalian Diri: Kemampuan untuk mengendalikan diri sehingga mencegah untuk melakukan tindakan-tindakan yang negatif pada saat menghadapi tantangan ataupun pada saat bekerja di bawah tekanan.

3. memiliki harapan hidup dan kapasitas untuk mencapai tujuan hidup sebaik mungkin, mencakup:
    a. Optimis: Kemampuan memandang hal-hal dari segi yang baik dan menumbuhkan sikap positif dalam menghadapi situasi;
    b. Penerimaan diri: Kemampuan menerima aspek-aspek pribadi dengan terus mengupayakan pengembangan yang diperlukan;
    c. Kemandirian dalam pikiran dan tindakan: Kesediaan dan kemampuan untuk melakukan pemikiran dan tindakan yang diperlukan sesuai tuntutan situasi.

4. mampu memanfaatkan potensi, dan energinya untuk bekerja secara produktif, mencakup:
    a. Kepercayaan Diri: Keyakinan atas kemampuan diri dan obyektifitas dalam menilai kemampuan tersebut;
    b. Produktif: Kemampuan menampilkan unjuk kerja sesuai kuantitas dan kualitas yang diharapkan sesuai tuntutan peran.

5. mempunyai sikap yang sesuai dengan norma dan pola hidup masyarakatnya, sehingga relasi interpersonal dan sosialnya baik, mencakup:
    a. Karakter Moral: Kemampuan untuk melakukan tindakan yang sesuai dengan peraturan dan nilai-nilai moral, menitikberatkan kejujuran dan satunya kata dan perbuatan, serta berkomitmen pada tanggung jawab yang diemban sesuai perannya;
    b. Penyesuaian Diri: Kecakapan membawa diri, memenuhi tuntutan lingkungan pekerjaan, beradaptasi terhadap perubahan (kondisi, target, tugas, dan lain-lain) dan tetap mempertahankan efektivitas kerjanya; Kemampuan menyesuaikan diri dalam menghadapi perubahan (lingkungan, tugas, dan budaya) dengan tetap menjaga efektivitas pribadi dan unjuk kerja;
    c. Kualitas hubungan dengan orang lain: Memiliki minat dan perhatian terhadap orang lain, mampu menciptakan impresi yang baik dalam situasi sosial, dan mampu menjalin hubungan dengan berbagai kalangan.


Melayani Rakyat Menggunakan Hak Pilihnya

MENUJU 9 DESEMBER 2020
Pemilihan Bupati & Wakil Bupati Malang

Hari
Jam
Menit
Detik

ARSIP POSTING
[April 2020] 30 Arsip posting
[August 2020] 32 Arsip posting
[February 2020] 38 Arsip posting
[January 2020] 55 Arsip posting
[July 2020] 30 Arsip posting
[June 2020] 32 Arsip posting
[March 2020] 28 Arsip posting
[May 2020] 6 Arsip posting
[September 2020] 23 Arsip posting
MULTIMEDIA
Pencocokan & Penelitian Data Pemilih oleh PPDP
AGENDA KEGIATAN
Penetapan Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Malang pada Pemilihan Serentak Lanjutan Tahun 2020
Pendaftaran Lembaga Pelaksana Survei / Jajak Pendapat & Penghitungan Cepat Hasil Pemilihan Bupati & Wakil Bupati Malang tahun 2020
Pendaftaran Pemantau Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Malang tahun 2020